MoneterFact-check

Benarkah rakyat desa tidak terdampak dollar?

Pernyataan "rakyat di desa tidak pakai dollar" benar secara harfiah — tetapi tidak akurat secara ekonomi. Harga minyak goreng, pupuk, dan pangan olahan tetap bisa ikut naik lewat rantai impor dan komoditas global.

Mei 2026·7 mnt baca

Ringkasan

  • Klaim "rakyat desa tidak pakai dollar" benar secara harfiah — tetapi menyesatkan secara ekonomi.
  • Harga minyak goreng, pangan olahan, pupuk, dan BBM bisa tetap naik lewat rantai impor dan pasar komoditas global.
  • Dampaknya nyata, tapi berbeda menurut jenis barang — tidak semua harga desa terhubung langsung ke dollar.

Konteks pernyataan

Pada 15 Mei 2026, Presiden Prabowo menyatakan masyarakat desa tidak perlu khawatir terhadap pelemahan rupiah karena "orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok". Pernyataan ini muncul saat rupiah melemah ke level Rp 17.719 per dollar AS pada 19 Mei 2026 — melemah sekitar 14% dari posisi awal 2024. Menteri Keuangan Purbaya kemudian menjelaskan pernyataan tersebut sebagai "cara memberikan ketenangan dan hiburan" di tengah gejolak ekonomi.

Harga barang tidak ditentukan hanya oleh mata uang yang dipakai pembeli di kasir. Harga dibentuk jauh sebelumnya — di rantai pasok: bahan baku, energi, pupuk, logistik, dan komoditas yang sering dihitung dengan acuan dollar.

Grafik 1


Pelemahan Rupiah terhadap Dollar AS (2024–2026)

15k16k17k18kJan'24Apr'24Jul'24Okt'24Jan'25Apr'25Jul'25Okt'25Jan'26Apr'26Rp 17.719/USD19 Mei 2026

Sumber: Bank Indonesia — JISDOR

Grafik 1.Rupiah melemah dari Rp 15.473 per dollar di awal Januari 2024 ke Rp 17.719 pada 19 Mei 2026 — pelemahan sekitar 14% dalam 17 bulan. Pernyataan Presiden muncul saat kurs berada di dekat titik tertinggi periode ini.

Mengapa desa tetap terdampak

Jika rupiah melemah, importir butuh rupiah lebih banyak untuk membeli barang yang sama dalam dollar. Selisih biaya itu lalu bisa muncul sebagai harga jual yang lebih tinggi, baik langsung maupun bertahap lewat rantai distribusi.

Proses ini tidak terlihat langsung di warung, tapi tetap terjadi. Satu mata rantai yang bergantung pada harga internasional sudah cukup untuk meneruskan dampak nilai tukar ke harga eceran.

Intinya

Rakyat desa tidak perlu memegang dollar agar tetap merasakan efeknya. Cukup ada satu mata rantai sebelum mereka yang bergantung pada harga internasional.

Barang yang paling mungkin terasa

Minyak goreng naik dari rata-rata Rp 14.000 (2024) menjadi Rp 17.620–18.000 per liter (2025–2026) — kenaikan sekitar 29%. Ini terjadi karena harga Crude Palm Oil (CPO) global yang diperdagangkan dalam dollar ikut naik akibat permintaan biodiesel dan cuaca buruk.

Indonesia mengimpor 11,61 juta ton gandum per tahun untuk produksi terigu — 100% impor karena gandum tidak tumbuh di iklim tropis. Saat rupiah melemah, biaya impor gandum naik dan berdampak ke harga mi instan, roti, dan gorengan terigu. Pupuk bersubsidi turun 20% sejak Oktober 2025 berkat reformasi subsidi — namun tanpa intervensi itu, pelemahan rupiah sebenarnya akan menaikkan harga pupuk karena bahan baku sebagian diimpor.

Grafik 2


Perubahan Harga Produk Desa (2024–2026)

Data dalam persiapan

Sumber: BPS, Kemendag — segera tersedia

Grafik 2.Minyak goreng naik 29%, pupuk urea turun 20% (karena subsidi), BBM Pertalite tetap disubsidi, gandum/terigu naik sekitar 15%.

Di mana klaim ada benarnya

Klaim tersebut tidak sepenuhnya salah. Banyak transaksi rumah tangga desa memang berbasis produk lokal, dan beberapa harga ditahan oleh kebijakan pemerintah, subsidi, atau stok musiman.

Dampaknya memang lebih kecil di desa dibanding kota yang konsumsi produk impornya lebih tinggi. Ahli agribisnis UGM memperkirakan fluktuasi nilai tukar menaikkan harga pangan 2–8% tergantung jenis komoditas. Produk berbahan impor seperti gandum dan kedelai paling rentan, sementara beras lokal relatif stabil kecuali input produksinya terdampak.

Grafik 3


Estimasi Dampak Pelemahan Rupiah ke Harga Komoditas Desa

Data dalam persiapan

Sumber: UGM, Kemendag — segera tersedia

Grafik 3.Estimasi perubahan harga berbagai komoditas desa akibat pelemahan rupiah 2025–2026, berdasarkan perhitungan UGM dan Kemendag.

Kesimpulan

Pernyataan "rakyat di desa tidak pakai dollar" benar bila dibaca secara harfiah. Tetapi sebagai penjelasan ekonomi, kalimat itu terlalu menyederhanakan masalah.

Warga desa tidak perlu belanja dengan dollar untuk tetap menanggung dampak kurs. Selama pangan, pupuk, energi, atau distribusi masih punya hubungan dengan pasar global, pelemahan rupiah tetap bisa sampai ke meja makan mereka.


Tulisan Lainnya